Analisa ekonomi dan politik dengan tujuan menentukan nilai tukar dimasa yang akan datang.
Rupiah Indonesia anjlok pada hari Kamis ke level terlemah sejak krisis finansial Asia satu dekade lalu, dimana pasar terlihat menahan diri dan bersiap untuk pelemahan rupiah lebih lanjut. Kontrak non-deliverable forwards 1-bulan telah mengantisipasi depresiasi rupiah sebesar 12 persen.
Pejabat berwenang tengah sibuk mengatasi krisis. Bank sentral, dimana pada pekan lalu mengetatkan peraturan transaksi mata uang, melakukan intervensi di pasar uang untuk menahan anjloknya rupiah.
Regulator minyak dan gas, BP Migas, mengatakan mereka akan menyarankan kontraktor menggunakan bank lokal untuk mendepositkan miliar dolar dari transaksi energi mereka.
Rupiah diperdagangkan di 12,350 per dolar (terendah intraday 12,450 per dolar - Bloomberg) dengan volume tipis, dimana merupakan level terendah sejak Agusus 1998, ketka Indonesia terkena dampak krisis Asia. Bank Indonesia terlihat membeli rupiah di Rp 12,250. Sementara mata uang won Korea anjlok 3.5 persen ke level terendah 10-tahun, mencerminkan kekhawatiran investor bahwa ekonomi yang tergantung kepada ekspor akan terpukul karena ekonomi negara maju menuju resesi.
Rupee India anjlok ke rekor terendah pada pembukaan perdagangan karena investor khawatir terhadap rontoknya kembali pasar saham global. Rupee dan rupiah telah terpuruk lebih dari 20 persen di tahun ini dan won melemah 37 persen karena investor asing yang khawatir oleh kerugian bank di AS dan Eropa, keluar dari pasar negara emerging.
Trader di Jakarta mengatakan spread bid/offer rupiah selebar 12,200-12,400 per dolar.
Gubernur Bank Indonesia Boediono pada hari Selasa mengatakan bank sentral tidak akan mentolerir pergerakan rupiah yang tidak irasional dimana telah terpukul bersamaan dengan kebanyakan mata uang emerging berkat krisis finansial global yang dipicu AS.
HSBC memperkirakan investor asing memiliki sekitar 50 persen saham di Indonesia dan hampir 20 persen outstanding surat hutang pemerintah. HSBC berpikir saat ini kita belum berada dalam situasi panik. Jika investor mulai panik dan memindahkan dana mereka ke luar negeri, disitulah saatnya yang mengkhawatirkan.
Sumber Reuters.

| USA ET | |
| UK | |
| Japan | |
| China |