Analisa ekonomi dan politik dengan tujuan menentukan nilai tukar dimasa yang akan datang.
Rupiah masih mendapatkan tekanan terhadap dolar AS, berkat penguatan dolar AS terhadap mata uang utama dan regional Asia lainnya. Dolar rupiah sempat menguat ke 11,123 di sesi pagi, meskipun indeks saham gabungan (IHSG) menguat di awal sesi perdagangan ke level tertinggi 1,378 (+26 poin). Tingginya permintaan dolar untuk pembayaran hutang korporasi di akhir tahun, masih memberikan sentimen negatif kepada rupiah. Pasar masih menunggu keputusan BI pada pekan ini, diperkirakan akan mendorong penurunan suku bunga 25-50 bsp dari level 9.50%, setelah melihat data inflasi Indonesia bulan Oktober menurun menjadi 0.45% m/m dari 0.97%, dan trend penurunan suku bunga global setela AS, China, Jepang, Hong Kong, Taiwan, India dan Timur Tengah pada pekan lalu. Hari ini Australia memotong suku bunga lebih besar dari perkiraan, dapat memberikan tekanan kepada BI untuk menurunkan suku bunga. Franklin Templeton Investments AS dan Sydbank A/S Denmark, menyarankan pembelian won, rupiah dan yuan. Kontrak Non-Delivery Forwards (NDF) menunjukkan rupiah berpotensi melemah 7.5% menjadi Rp 12,020. Sementara prediksi median Bloomberg menunjukkan rupiah di Rp 9,700 di akhir tahun 2009. Analis Morgan Stanley masih melihat potensi kondisi yang terburuk, karena akan lebih banyak negara berkembang sepertinya akan minta pinjaman darurat IMF, dimana Ukraina, Hungaria dan Islandia baru saja menerima bantuan IMF. Rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 10,800-11,200 terhadap dolar AS pada hari Rabu, range 10,500-11,800 pada pekan ini.

| USA ET | |
| UK | |
| Japan | |
| China |